ASAL USUL PULAU BELITUNG
Belitung atau Belitong
(sejenis siput laut) adalah nama sebuah pulau tropis yang terletak di
lepas pantai timur Pulau Sumatra, bagian dari Provinsi Bangka-Belitung,
Indonesia. Menurut cerita, pulau yang bentuknya mirip kepala manusia ini
merupakan bagian semenanjung utara Pulau Bali yang terputus, lalu
hanyut terbawa arus gelombang menuju ke arah utara. Peristiwa apakah
yang menyebabkan Pulau Bali terputus? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam
cerita Asal Usul Pulau Belitung berikut ini.
Alkisah, di Pulau Bali, Indonesia, hidup seorang raja yang adil dan bijaksana. Sang Raja sangat disegani dan disayangi oleh rakyatnya. Apapun yang dititahkannya pasti dipatuhi oleh rakyatnya. Raja tersebut mempunyai seorang gadis yang cantik jelita. Kecantikannya terkenal hingga ke berbagai negeri. Sudah banyak pemuda dan putra mahkota yang datang melamarnya, namun tak satu pun lamaran mereka yang diterimanya.
Pada
suatu hari, seorang putra mahkota tampan dari kerajaan tetangga datang
melamarnya. Ia adalah putra dari sahabat karib ayahandanya. Namun, sang
Putri tetap menolak lamaran tersebut. Sang Raja dan Permaisuri sangat
heran melihat sikap putrinya itu.
“Permaisuriku!
Ada apa dengan putri kita? Kenapa setiap pelamar yang datang selalu
ditolaknya?” tanya sang Raja kepada permaisurinya.
“Entahlah, Kanda! Tapi, Dinda merasa putri kita sedang menyembunyikan sesuatu,” kata permaisuri.
“Kalau begitu, sebaiknya hal ini kita tanyakan langsung kepadanya,” kata sang Raja.
“Baiklah, Kanda. Biarlah Dinda yang bicara kepadanya mengenai hal ini,” sahut permaisuri.
Pada suatu sore, permaisuri melihat putrinya sedang duduk di kamarnya. Ia pun segera menghampirinya.
“Putriku! Mengapa Ananda selalu menolak lamaran yang datang?”
Mendengar
pertanyaan permaisuri, sang Putri hanya terdiam menunduk. Mulanya, ia
malu untuk mengungkapkan alasannya menolak lamaran tersebut. Namun
setelah didesak, dengan berat hati sang Putri pun menjawab:
“Maafkan
Ananda, Bunda! Bukannya Ananda tidak mau menerima lamaran mereka. Tapi,
Ananda merasa malu dengan penyakit yang sedang Ananda derita ini.”
“Penyakit apakah yang sedang Ananda derita? Kenapa Ananda tidak pernah bercerita kepada Bunda?” sang Permaisuri bertanya lagi.
Pertanyaan
permaisuri itu membuat sang Putri kembali terdiam. Ia tidak berani
menatap ibundanya. Melihat hal itu, sang Permaisuri pun memeluk putri
kesayangannya itu.
“Putriku! Penyakit apakah yang sedang Ananda derita? Ceritakanlah kepada Bunda!” bujuk permaisuri.
Sambil menangis terisak di pelukan ibundanya, sang Putri pun bercerita tentang keadaan penyakit yang ia derita.
“Ananda sedang mengidap penyakit kelamin, Bunda,” ungkap sang Putri.
Mendengar
cerita itu, Permaisuri pun mengerti dan merasa sedih atas nasib yang
menimpa putrinya. Ia pun segera menyampaikan berita buruk itu kepada
Baginda Raja.
“Kanda!
Dinda sudah tahu alasan kenapa putri kita selalu menolak setiap lamaran
yang datang. Rupanya, putri kita sedang mengidap penyakit kelamin,”
kata permaisuri.
Betapa
terkejutnya sang Raja mendengar berita itu. Ia bingung dan tidak tahu
harus berbuat apa. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Baginda Raja dan
permaisuri memutuskan untuk mengadakan sayembara. Barang siapa yang
mampu menyembuhkan penyakit sang Putri akan dinikahkan dengan sang
Putri. Sang Raja pun segera memerintahkan kepada hulubalang istana agar
menyebarkan pengumuman ke berbagai negeri.
Pada
hari yang telah ditentukan, berkumpullah para ahli pengobatan dari
berbagai penjuru untuk mengikuti sayembara tersebut. Satu per satu para
ahli tersebut dipanggil untuk mengobati penyakit sang Putri. Meskipun
para ahli tersebut telah mengeluarkan kemampuan dan kesaktian
masing-masing, namun tak seorang pun yang berhasil menyembuhkan penyakit
sang Putri. Putuslah harapan sang Raja dan permaisuri. Oleh karena
khawatir penyakit sang Putri akan menular kepada orang-orang di
sekitarnya, akhirnya sang Raja pun memutuskan untuk mengasingkan
putrinya ke tengah hutan di semenanjung sebelah utara Pulau Bali.
Keesokan
harinya, setelah segala sesuatunya disiapkan, sang Putri pun diantar ke
tempat pengasingan. Ia diantar oleh sang Raja dan permaisuri beserta
para pembantu istana. Sesampainya di sana, sang Putri dibuatkan sebuah
pondokan untuk tempat tinggal. Setelah itu, sang Putri pun ditinggal
bersama anjing peliharaannya yang bernama Tumang. Sebelum kembali ke
istana, permaisuri berusaha membujuk dan menenangkan hati putrinya.
“Maafkan
kami, Putriku! Ayahanda dan Bunda terpaksa meninggalkan Nanda sendirian
di sini hingga penyakit Ananda sembuh. Ananda tidak usah khawatir,
sesekali waktu Bunda akan mengutus beberapa orang pengawal istana untuk
mengantarkan makanan dan segala keperluan Ananda selama tinggal di
sini,” ujar permaisuri kepada putrinya.
“Baiklah,
Bunda! Demi keselamatan orang lain, Nanda rela tinggal di sini. Lagi
pula, Ananda sudah ditemani oleh si Tumang,” kata sang Putri.
Setelah
memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa untuk perlindungan sang Putri,
dengan perasaan sedih sang Raja dan permaisuri beserta rombongannya
pergi meninggalkan tempat tersebut.
Selama
berada di dalam hutan itu, sang Putri selalu ditemani oleh anjing
kesayangannya ke mana pun ia pergi. Pada suatu hari, ketika sang Putri
sedang buang air kecil, si Tumang menjilat air kencing sang Putri.
Bahkan si Tumang juga menjilat sisa-sisa air kencing yang masih melekat
di kemaluan sang Putri. Melihat hal itu, sang Putri tetap membiarkannya.
Kejadian seperti itu berlangsung hampir setiap kali sang Putri buang
air kecil.
Setelah
beberapa bulan berada di tempat itu, sang Putri mulai merasa kesepian.
Sebagai seorang gadis yang sedang mengalami kasmaran yang menggelora,
tentu ia mendambakan kehangatan kasih mesra seorang kekasih. Ketika
asmaranya semakin menggelora dan tak mampu lagi menahannya, akhirnya
sang Putri pun melampiaskan nafsunya kepada anjing kesayangannya.
Kebiasaan sang Putri membiarkan anjingnya menjilat kemaluannya setiap
selesai buang air kecil berubah menjadi hubungan kelamin, hingga
akhirnya sang Putri mengandung. Namun, saat itu pula terjadi suatu
keanehan. Penyakit yang diderita sang Putri berangsur sembuh.
Pada
suatu hari, utusan dari istana datang mengantarkan makanan dan
keperluan untuk sang Putri. Betapa terkejutnya para utusan tersebut
ketika melihat perut sang Putri yang sudah membesar.
“Ampun, Tuan Putri! Apa yang sedang menimpa Tuan Putri, kenapa perut Tuan Putri menjadi besar begitu?” tanya seorang utusan.
Mulanya,
sang Putri enggan untuk menceritakan semua kejadian yang dialaminya.
Setelah didesak, akhirnya ia pun berterus terang dan menceritakan apa
yang telah dilakukannya dengan si Tumang. Ia juga bercerita bahwa sejak
berhubungan dengan si Tumang, penyakit kelaminnya berangsur sembuh.
Mendengar
pernyataan sang Putri, para utusan itu pun segera kembali ke istana
untuk menyampaikan berita tersebut kepada sang Raja. Mulanya sang Raja
sangat senang ketika mendengar penyakit putrinya telah sembuh. Namun,
alangkah terkejutnya sang Raja ketika mendengar putrinya telah
berhubungan badan dengan si Tumang. Mendengar kabar buruk itu, sang Raja
bagaikan disambar petir. Ia benar-benar tidak pernah menyangka
sebelumnya jika putrinya akan melakukan perbuatan yang sangat memalukan
itu. Ia pun menjadi murka dan tidak menerima perbuatan putrinya yang
telah mencemarkan nama baik keluarga istana.
Pada suatu malam, Sang Raja mensucikan diri dan memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar menghukum putrinya.
“Ya,
Tuhan! Berilah hukuman kepada putriku yang telah melanggar perintahmu!
Hancurkanlah tempat di mana Putriku telah melakukan perbuatan tercela!”
Doa
sang Raja pun dikabulkan. Beberapa hari kemudian, hujan deras disertai
angin sangat kencang datang menerjang. Tidak berapa lama kemudian, bumi
pun bergetar sehingga semenanjung Pulau Bali tempat sang Putri
diasingkan itu terputus dan hanyut menuju ke arah utara.
Nun
jauh di sana, di tengah laut lepas sebelah timur Pulau Sumatra, dua
orang nelayan yang bernama Datuk Malim Angin dan Datuk Langgar Tuban
sedang memancing ikan dengan menggunakan perahu sampan. Di tengah sedang
asyik memancing, tiba-tiba mereka dikejutkan sebuah pemandangan yang
aneh. Datuk Malim Angin melihat sebuah pulau sedang hanyut dan melintas
tidak jauh dari tempat mereka memancing. Tanpa berpikir panjang, ia pun
segera mengayuh sampan dan mengejar pulau itu. Ketika berhasil mencapai
salah satu bagian pulau tersebut, Datuk Malim Angin pun segera mengambil
sebuah tali sauh dan mengikatkannya pada sebatang pohon yang ada di
kaki sebuah gunung, kemudian melemparkan jangkarnya yang telah diikatkan
pada ujung tali itu ke dasar laut. Beberapa saat kemudian, pulau itu
pun berhenti dan tidak hanyut lagi.
Menurut
kepercayaan masyarakat setempat, gunung tempat Datuk Malim Angin
menambatkan tali sauhnya disebut dengan Gunung Baginde yang kini
terletak di Kampung Padang Kandis, Membalong, Belitung. Sementara pulau
yang hanyut itu, masyarakat setempat menyebutnya Pulau Belitong, yang berasal dari kata Bali terpotong. Lama kelamaan penyebutannya berubah menjadi Belitung.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar